RAJA TANPA TANDA JASA
Bagaimana
rasanya jika suasana sore yang damai dan penuh ketenangan di rumah kita
tiba-tiba terganggu oleh insiden yang tidak terduga? Nah, begitulah yang saya
alami beberapa hari silam.
Tak
ada angin tak ada hujan, salah satu anak saya yang masih duduk di bangku
sekolah dasar, datang ke rumah dalam keadaan menangis. Sedianya ia baru saja
pulang mengaji. Ada apa ini? Pulang ngaji kok nangis?
Kebetulan
ia satu kelas dengan kakaknya di pengajian. Maka kami bertanya pada sang kakak
untuk mencari tahu apa yang baru saja terjadi.
Rupanya
tadi saat tengah mengaji, ia membuat kegaduhan karena berjalan kesana kemari.
Lantas, guru ngajinya menegur dengan sedikit marah. Hingga akhirnya ia menangis
karena dimarahi.
Saya
terkejut mendengar penjelasan tersebut. Begitu pula istri, namun kami detik itu
fokus untuk menenangkan tangisannya terlebih dahulu.
Malam
harinya kami berdua diskusi tentang bagaimana tindak lanjut dari kejadian sore
tadi. Sebagai orang tua, tentu kami tidak akan membiarkan siapapun berbuat
sesuka hatinya kepada buah hati kami. Lagipula ia masih anak-anak, wajar saja
jika bercanda layaknya anak kecil.
Berbagai
kemungkinan yang dapat ditempuh saya utarakan kepada istri, begitu pun dia
memiliki alternatif-alternatif lain sebagai pilihannya. Malam itu rembukan kami
belum menghasilkan jalan keluar yang cukup tepat.
Hingga
esok harinya, kami kembali bertukar pendapat. Pada akhirnya tercapailah
keputusan agar saya mendatangi sang guru ngaji tersebut secara langsung!
Bagaimanapun juga, saya harus sampaikan pada beliau gejolak yang ada di hati
ini!
Maka
pada sore bertepatan dengan jam mengaji dimulai, saya bersama anak bertatap
muka dengan sang guru. Kemudian di hadapan beliau saya katakan,
"Ustaz,
saya datang ke sini berkaitan dengan kejadian kemarin yang terjadi pada anak
saya!"
Beliau
masih mendengarkan dengan seksama.
"Saya
datang untuk meminta maaf karena Ustaz kemarin tidak berkenan dengan perbuatan
anak saya. Dan saya sampaikan terima kasih karena Ustaz telah menegurnya."
Beliau
tampak semakin menunggu apa yang ingin saya sampaikan.
"Saya
hanya ingin Ustaz tahu, bahwa kami orangtuanya tidak pernah keberatan dengan
cara apapun yang Ustaz terapkan. Saya yakin semua demi kebaikan mereka.
Intinya,
selama mereka sedang belajar di sini, maka Ustaz lah yang menjadi orang tuanya.
Ustaz bebas mendidik mereka dengan cara yang terbaik. Insya Allah, kami ridha
seutuhnya."
Beliau
tersenyum dan sejurus kemudian kami bersalaman dan berpisah. Sebagai orang tua,
tentu kami tidak akan membiarkan siapapun berbuat sesuka hatinya kepada buah
hati kami. Kecuali guru mereka.
Alhamdulillah,
sudah seharusnya setiap orang tua mempercayakan sepenuhnya pendidikan anak-anak
mereka kepada gurunya. Sebagaimana pesan Sahabat Umar bin Khattab dalam riwayat
Al-Imam Baihaqi,
تواضعوا لمن تعلمون منه
“Rendahkan
diri kalian terhadap orang yang mengajari kalian."
Nasihat
ini berbicara tentang adab kepada para guru yang mengajari kita, dan termasuk
juga para guru yang mengajari anak-anak kita. Sungguh akhlak yang demikian
hampir saja hilang dari para orang tua di jaman ini.
Orang
tua yang seharusnya memuliakan para pendidik seperti seorang raja, justru kini
memandang mereka laksana budak. Apabila tidak berkenan sedikit saja, para orang
tua tak segan-segan melaporkan mereka.
Bukankah
mirip seperti seorang tuan yang mengawasi budaknya dengan aneka ancaman. Pantas
saja keberkahan ilmu hilang dari anak-anaknya.
Semoga
Allah membalas jasa para guru dengan sebesar-besarnya dan kita sebagai orang
tua dimampukan untuk menjaga kehormatan mereka sebagaimana mestinya.
Salam
Hijrah.
Ustd
Arafat
No comments:
Post a Comment