Tuesday, September 10, 2019

RAJA TANPA TANDA JASA

 

Bagaimana rasanya jika suasana sore yang damai dan penuh ketenangan di rumah kita tiba-tiba terganggu oleh insiden yang tidak terduga? Nah, begitulah yang saya alami beberapa hari silam.

 

Tak ada angin tak ada hujan, salah satu anak saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, datang ke rumah dalam keadaan menangis. Sedianya ia baru saja pulang mengaji. Ada apa ini? Pulang ngaji kok nangis?

 

Kebetulan ia satu kelas dengan kakaknya di pengajian. Maka kami bertanya pada sang kakak untuk mencari tahu apa yang baru saja terjadi.

 

Rupanya tadi saat tengah mengaji, ia membuat kegaduhan karena berjalan kesana kemari. Lantas, guru ngajinya menegur dengan sedikit marah. Hingga akhirnya ia menangis karena dimarahi.

 

Saya terkejut mendengar penjelasan tersebut. Begitu pula istri, namun kami detik itu fokus untuk menenangkan tangisannya terlebih dahulu.

 

Malam harinya kami berdua diskusi tentang bagaimana tindak lanjut dari kejadian sore tadi. Sebagai orang tua, tentu kami tidak akan membiarkan siapapun berbuat sesuka hatinya kepada buah hati kami. Lagipula ia masih anak-anak, wajar saja jika bercanda layaknya anak kecil.

 

Berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh saya utarakan kepada istri, begitu pun dia memiliki alternatif-alternatif lain sebagai pilihannya. Malam itu rembukan kami belum menghasilkan jalan keluar yang cukup tepat.

 

Hingga esok harinya, kami kembali bertukar pendapat. Pada akhirnya tercapailah keputusan agar saya mendatangi sang guru ngaji tersebut secara langsung! Bagaimanapun juga, saya harus sampaikan pada beliau gejolak yang ada di hati ini!

 

Maka pada sore bertepatan dengan jam mengaji dimulai, saya bersama anak bertatap muka dengan sang guru. Kemudian di hadapan beliau saya katakan,

 

"Ustaz, saya datang ke sini berkaitan dengan kejadian kemarin yang terjadi pada anak saya!"

 

Beliau masih mendengarkan dengan seksama.

 

"Saya datang untuk meminta maaf karena Ustaz kemarin tidak berkenan dengan perbuatan anak saya. Dan saya sampaikan terima kasih karena Ustaz telah menegurnya."

 

Beliau tampak semakin menunggu apa yang ingin saya sampaikan.

 

"Saya hanya ingin Ustaz tahu, bahwa kami orangtuanya tidak pernah keberatan dengan cara apapun yang Ustaz terapkan. Saya yakin semua demi kebaikan mereka.

 

Intinya, selama mereka sedang belajar di sini, maka Ustaz lah yang menjadi orang tuanya. Ustaz bebas mendidik mereka dengan cara yang terbaik. Insya Allah, kami ridha seutuhnya."

 

Beliau tersenyum dan sejurus kemudian kami bersalaman dan berpisah. Sebagai orang tua, tentu kami tidak akan membiarkan siapapun berbuat sesuka hatinya kepada buah hati kami. Kecuali guru mereka.

 

Alhamdulillah, sudah seharusnya setiap orang tua mempercayakan sepenuhnya pendidikan anak-anak mereka kepada gurunya. Sebagaimana pesan Sahabat Umar bin Khattab dalam riwayat Al-Imam Baihaqi,

 

تواضعوا لمن تعلمون منه

 

“Rendahkan diri kalian terhadap orang yang mengajari kalian."

 

Nasihat ini berbicara tentang adab kepada para guru yang mengajari kita, dan termasuk juga para guru yang mengajari anak-anak kita. Sungguh akhlak yang demikian hampir saja hilang dari para orang tua di jaman ini.

 

Orang tua yang seharusnya memuliakan para pendidik seperti seorang raja, justru kini memandang mereka laksana budak. Apabila tidak berkenan sedikit saja, para orang tua tak segan-segan melaporkan mereka.

 

Bukankah mirip seperti seorang tuan yang mengawasi budaknya dengan aneka ancaman. Pantas saja keberkahan ilmu hilang dari anak-anaknya.

 

Semoga Allah membalas jasa para guru dengan sebesar-besarnya dan kita sebagai orang tua dimampukan untuk menjaga kehormatan mereka sebagaimana mestinya.

 

Salam Hijrah.

Ustd Arafat

No comments:

Post a Comment