Sunday, July 5, 2020

KITA PERLU BELAJAR DARI SEMUT


Alkisah tersebutlah satu kaum semut yang hidup di sebuah lembah di negeri Syam. Kediaman mereka sebenarnya berada di dalam sarang-sarang, namun para semut tersebut pada siang hari beraktivitas di sekitar lembah yang juga merupakan jalan yang biasa dilalui oleh manusia.

 

Hingga suatu hari, Nabi Sulaiman beserta pasukan berkudanya menuju kepada jalan di lembah tersebut. Seekor semut yang memiliki kemampuan melebihi teman-temannya yang lain, menyadari hal itu.


 

Ia lantas mengingatkan mereka agar segera pulang ke sarang masing-masing untuk menyelamatkan diri. Tafsir Ibnu Katsir menyebut, bahwa semut yang berbicara itu bernama Haras, dari Bani Syisan.

 

Para semut pun mengikuti anjuran tersebut meski sebenarnya mereka sendiri belum melihat langsung pasukan Sang Nabi karena masih berada di kejauhan. Kisah ini diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 18.

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka (pasukan Nabi Sulaiman) sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."

 

Demi mendengar seekor semut yang berbicara kepada teman-temannya untuk saling mengingatkan, Nabi Sulaiman pun tersenyum dan memuji Allah. Lalu ia menghentikan pasukannya agar memberi waktu bagi para semut untuk berlindung.

 

Kisah tersebut bukanlah dongeng anak-anak yang hanya imajinasi, melainkan nyata terjadi. Al-Quran merekam kisah itu untuk kita karena banyak sekali hikmah yang dapat kita petik darinya.

 

Pertama, tentang serangga kecil yang memiliki sifat saling percaya kepada temannya. Mereka tahu bahwa Haras yang memberi peringatan itu memang punya kelebihan pendengaran dibanding yang lain.

 

Tak seekor pun yang berlawanan pendapat dengan dia, karena memang para semut itu menyadari bahwa mereka tidak menguasai ilmunya melebihi Haras.

 

Kedua, tentang sekumpulan hewan yang mengambil langkah antisipasi. Meskipun bahaya masih jauh, mereka sudah sigap bergerak melakukan penyelamatan.

 

Para semut tahu, jika mereka baru bergerak saat pasukan berkuda itu sudah di depan mata, tentu tak bermanfaat lagi. Kaki-kaki kekar dari barisan kuda pastilah akan menginjak-injak mereka karena terlambat untuk bertindak.

 

Ketiga, tentang mahluk Allah yang mengetahui kapasitas dirinya hanya sebagai seekor semut. Ketika pasukan berkuda mendekati, mereka tahu bahwa bersembunyi di sarang adalah ikhtiar terbaik untuk menyelamatkan diri.

 

Tak ada gunanya menantang barisan berkuda jika mereka hanya semut. Karena setiap mahluk Allah diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan para semut itu ridha dengan bagian mereka.

 

Demikianlah keteladanan dari semut-semut pada zaman Nabi Sulaiman. Ribuan tahun berlalu, namun kisah ini tak lapuk oleh waktu. Bahkan semut (An-Naml) dijadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Quran.

 

Salam Hijrah

 

Monday, November 11, 2019

YANG BAIK BERKUMPUL DENGAN YANG BAIK

 

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ وَكُلٌّ مِنَ الْأَخْيَارِ

"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik."

 

Mari kita perhatikan bagaimana Al-Quran dalam Surat Shad ayat 48 di atas mengumpulkan nama orang-orang yang berbeda dalam satu ayat yang sama.


Cobalah diamati sekali lagi dan kita renungkan pelan-pelan mengapa ketiga nama itu disebut bersamaan? Karena ketiganya adalah sama-sama orang baik. Ingat, yang baik hanya kumpul dengan yang baik.

 

Maka dalam hidup ini usahakanlah mencari kumpulan yang baik pula, meski kita belum sepenuhnya menjadi orang baik. Hadiri majlis pengajian ulama-ulama saleh, carilah teman yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah.

 

Termasuk dalam bermedsos, berkumpullah dengan mereka yang menghargai waktu kita karena telah menyuguhkan postingan yang bermanfaat.

 

Lalu bagaimana gaya bahasa Al-Quran dalam menceritakan orang-orang yang tidak baik? Simak Surat Al-Qashas ayat 8 berikut,

 

إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ

 

"Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah."

 

Tak jauh berbeda dengan sebelumnya, dalam satu ayat yang sama berkumpul nama-nama yang berbeda, dan kesemuanya sama-sama orang yang tidak baik. Fir'aun hanya berkumpul dengan Haman!

 

Ingat, yang tidak baik hanya kumpul dengan yang tidak baik.

 

Maka dalam hidup ini untuk menilai apakah diri kita sudah dekat dengan kebaikan atau belum, lihatlah kepada siapa kita sering berkumpul. Apakah kepada orang-orang baik, atau kepada orang-orang yang tidak baik?

 

Alangkah indahnya Al-Quran, hanya dari susunan bahasanya saja kita sudah mendapat pelajaran berharga. Semoga kita semua diberi nikmat oleh Allah berupa perkumpulan yang baik. Bukan hanya di dunia, bahkan hingga di akhirat.

 

Salam Hijrah.