Wednesday, March 24, 2021

SUDAH CUKUP PANTASKAH ANDA BERTAMU KE RUMAH MEWAH?

 

Suatu hari ada teman saya meminta tolong untuk menyampaikan pesan kepada seseorang yang rumahnya di Jakarta. Teman saya itu tinggal di luar kota, jadi cukup kerepotan kalau harus datang sendiri.

 


Saya pun bersedia membantunya, maka ia memberikan alamat tinggal orang yang dituju tersebut. Saya lihat lokasinya juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Masih sama-sama Jakarta Timur juga.

 

Keesokan harinya saya mencari alamat itu, ternyata rumah yang dimaksud sangat besar. Saya sendiri sempat ragu, namun setelah memastikan berulang kali memang rumah mewah itu benar yang dimaksud.

 

Saya turun dari sepeda motor, menekan bel yang berada di pagar rumahnya yang tinggi dan kokoh. Beberapa mobil berjajar rapi di garasi rumahnya, meski tidak terlihat jelas karena pagar tersebut cukup rapat, nyaris tanpa celah.

 

Setelah beberapa kali bel ditekan, akhirnya seorang pembantu rumah tangga mendekati dan menanyakan keperluan saya. Ia berbicara dari dalam pagar. Saya mengatakan ingin bertemu pemilik rumah dan menyampaikan tujuan saya.

 

Lantas ia berkata bahwa majikannya sedang ke luar kota. Saya bertanya kapan beliau kembali, namun ia menjawab tidak tahu dan tidak pasti. Saya mengerti bahwa alasan tersebut adalah bahasa halus untuk menunjukkan si pemilik rumah hanya mau bertemu dengan kalangan tertentu saja.

 

Saya lantas menyampaikan pesan yang sudah diamanatkan, dan bergegas pamit kepadanya dari balik pagar.

 

Ketika diceritakan semua yang terjadi itu pada teman saya, ia hanya tertawa. Seolah ia sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu, dengan santainya ia katakan bahwa sebagian orang-orang kaya raya memang seperti itu.

 

Mereka tidak akan sudi bertemu sembarang orang, dan pintu rumahnya tak akan terbuka untuk menerima sembarang tamu.

 

Pengalaman ini terjadi belasan tahun silam, dan itulah pertama kalinya saya tahu bahwa setiap manusia punya sifat yang berbeda. Ada yang ramah dan menghargai semua orang, namun ada pula yang menjaga jarak dan menutup diri kepada sebagian orang.

 

Itulah momentum ketika saya begitu bersyukur memiliki Allah, Tuhan Yang Maha Kaya, karena Dia tidak pernah memilih-milih hamba. Siapa saja diberikan-Nya ampunan apabila hamba tersebut mau bertamu ke dalam pintu taubat.

 

Pintu ijabah pun senantiasa terbuka kapan saja asalkan hamba tersebut mau berdoa dan meminta kepada-Nya. Inilah nikmat yang sering sekali kita lupakan. Yaitu nikmat menjadi hamba.

 

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

 

"Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

 

(Surat Al-A'raf: 56)

Wednesday, August 19, 2020

SIAPA BERBUAT AKAN MENDAPAT

 

Seringkali kita melihat hewan yang menolong sesamanya. Tak usah heran, karena hewan juga punya perasaan. Bahkan mereka juga sering menolong hewan lain dari jenis yang berbeda.

 

Termasuk sejenis tarantula yang satu ini, perbuatannya menolong hewan lain menarik perhatian para pemerhati Biologi. Tahu kan tarantula? Itu loh, sejenis laba-laba yang tubuhnya sebesar telapak tangan manusia, dan dipenuhi dengan bulu-bulu hingga ke sekujur kakinya.


 

Tarantula memangsa serangga. Namun pada spesies yang lebih besar, mereka bisa memangsa cicak, tikus atau katak. Tetapi uniknya jenis Tarantula Hitam Kolombia yang tinggal di hutan Amazon justru terbiasa berbaik hati mempersilakan katak untuk tinggal di dalam sarangnya.

 

Fenomena ini ditelusuri lebih lanjut oleh mereka yang menekuni bidang hewan. Setelah katak-katak itu diperbolehkan tinggal dalam sarangnya, apakah tarantula yang bersangkutan memperoleh manfaat juga?

 

Benar saja, rupanya kebaikan hati sang tarantula kembali kepada dirinya lagi. Karena katak tersebut di dalam sarangnya memangsa semut-semut yang hendak mengerubungi telur tarantula. Jadi dengan menolong katak, telur tarantula pun menjadi aman.

 

Siapa yang berbuat kebaikan, maka akan kembali kepada dirinya sendiri.

 

Prinsip ini tak hanya berlaku bagi hewan, justru yang lebih ditekankan lagi kepada manusia. Apa yang kita kerjakan, maka kembali kepada diri kita yang akan merasakannya. Tidak main-main, Allah mengulang hingga sembilan kali prinsip seperti ini dalam Al-Quran, dengan redaksi ayat yang berbeda-beda.

 

فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ

 

"Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." (Al-An'am : 104)

 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ

 

"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri." (Fushilat : 46)

 

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

 

"Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri." (An-Naml : 40)

 

وَمَنْ تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ

 

"Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri." (Fatir : 18)

 

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ

 

"Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri." (Al-Ankabut : 6)

 

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ

 

"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri." (Al-Isra : 15)

 

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

 

"Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri." (Muhammad : 38)

 

فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ

 

"Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibatnya itu akan menimpa dirinya sendiri." (Al-Fath : 10)

 

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ

 

"Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri." (An-Nisa : 111)

 

Padahal jika Allah berfirman satu kali saja, niscaya sudah pastilah benar apa yang Allah janjikan. Adakah perkataan yang lebih benar dari firman Allah? Maka bagaimana halnya ketika Allah menekankannya hingga berulang-ulang. Terbuat dari apa hati kita ini kalau masih tidak percaya juga dengan janji-Nya tersebut.

 

Bahwa segala amal baik pasti akan kembali kepada diri kita sendiri manfaatnya. Jadi jangan banyak pertimbangan saat hendak beramal baik. Serta segala perbuatan tercela akan kembali pula kerugiannya kepada diri sendiri. Maka pertimbangkan lagi seribu kali jika hendak berbuat dosa.

 

Salam Hijrah.