Tuesday, July 7, 2020

CORONAPEDIA

Baiklah, virus corona (Covid-19) memang pandemi yang harus kita waspadai bersama. Kita tetap wajib antisipasi dan memutus mata rantai penyebarannya. Bersamaan dengan itu, mari kita luangkan waktu sebentar saja untuk muhasabah.

 

Corona adalah mahluk mikroskopis yang kecil sekali sampai tak kasat mata. Ukurannya hanya 120 nanometer. Namun kita menyaksikan sendiri, suatu partikel yang amat kecil ternyata mampu membuat situasi besar.

 

Mari mengambil pelajaran dari hal ini, bahwa mudah bagi Allah memperlihatkan sesuatu yang besar hanya dari sebab-sebab kecil. Dari sini bisa menguatkan keimanan kita tentang balasan atas amal perbuatan, meski amalan itu teramat kecil laksana zarrah (partikel debu) kita tak bisa menghindar dari perhitungannya.

 

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه.

 

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."

 

(Surat Al-Zalzalah: 7-8)

 

Berbulan-bulan silam, ketika corona mewabah di negeri Tiongkok, kita semua menyaksikan dari jauh bagaimana keadaan genting di sana. Namun, hal tersebut kita tahu hanya sebatas berita saja karena kenyataannya kita hidup di sini dalam keadaan aman dan sehat.

 

Lantas lihatlah hari ini. Keadaan genting yang dulu hanya berita kini menjadi nyata kita rasakan, dan situasi aman dan sehat sekarang justru laksana berita bagi kita.

 

Jangan sampai kita tidak mengambil pelajaran, karena demikianlah kemiripan yang terjadi antara alam akhirat dengan alam dunia.

 

Saat hidup, alam akhirat tersebut hanya sebatas berita saja karena kenyataannya kita masih ada di alam dunia hari ini.

 

Namun setelah kematian, alam akhirat yang dulu hanya berita, saat itu menjadi nyata kita rasakan. Adapun alam dunia justru akan menjadi laksana berita bagi kita.

 

Semenjak mengetahui sifat penularan corona, kita mulai rajin mencuci tangan, memakai masker, serta menahan kaki ini tidak sering keluar rumah.

 

Kesimpulannya, virus insya Allah menjauh bagi orang-orang yang selamat menjaga anggota tubuhnya meliputi tangan, kaki, dan mulut.

 

Bukankah dosa juga demikian? Pintu perbuatan maksiat banyak masuk kepada kita melalui anggota tubuh tersebut. Maka hendaklah kita selalu berhati-hati menjaga lisan, tangan, dan kaki agar selamat kelak di akhirat.

 

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

"Pada hari (ketika), lisan, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."

 

(Surat An-Nur: 24)

Monday, July 6, 2020

CARA MEMBENTUK SEMANGKA

 

Bang Mada dan Midun terkejut melihat Engkong Haji membawa sebuah semangka yang berbentuk kotak. Bukankah semangka itu biasa mereka lihat dalam bentuk bulat?

 

"Ente berdua kaga usah heran, semangka ini gak begitu saja terbentuk jadi kotak seperti ini. Ada caranya!" Engkong Haji menangkap rasa penasaran kedua lelaki di hadapannya itu.


 

"Emang gimana cara bikin semangka bisa kotak gini?"

 

"Ini gak mudah cara buatnya, harus sabar! Jadi sejak semangka ini masih kecil, petaninya menutup rapat pakai akrilik berbentuk kubus. Untuk cetakannya gitu."

 

Engkong Haji memperagakan dengan kedua tangannya, sementara Mada dan Midun masih memperhatikan dengan antusias.

 

"Nah karena sejak kecil sudah dicetak, nanti semakin lama semakin besar semangka itu akan tumbuh mengikuti bentuk kubus tersebut. Makanya jadi kotak kaya gini! Kalau udah terbentuk, meskipun cetakannya dilepas gak akan mudah kembali lagi jadi bulat!"

 

Kini mengertilah mereka berdua, bahwa membuat semangka jadi seperti itu prosesnya memang sejak kecil. Sejurus kemudian Engkong Haji menambahkan ceritanya,

 

"Semangka ini juga sama seperti anak-anak kita. Kalau dari kecil dibentuk orang tuanya dengan akhlak yang saleh, maka semakin lama semakin besar anak itu akan tumbuh mengikuti akhlak tersebut."

 

Midun pun menimpali, "dan kalau udah terbentuk akhlak yang baik, meskipun sudah dilepas orang tuanya gak akan mudah untuk berubah! Begitu kan Engkong?"

 

"Pinter ente, Midun!" Kebetulan Engkong Haji hafal beberapa syair dalam bahasa Arab, beliau lalu membacakan di hadapan Bang Mada dan Midun.

 

يَنْشَأُ نَاشِيْءُ الفِتْيَانِ مِنَّا عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ

 

"Artinya apaan Engkong?"

 

“Tumbuh berkembang anak-anak kami, di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya.”


"Cakeeep." Mada dan Midun menjawab kompak.

 

Sunday, July 5, 2020

KITA PERLU BELAJAR DARI SEMUT


Alkisah tersebutlah satu kaum semut yang hidup di sebuah lembah di negeri Syam. Kediaman mereka sebenarnya berada di dalam sarang-sarang, namun para semut tersebut pada siang hari beraktivitas di sekitar lembah yang juga merupakan jalan yang biasa dilalui oleh manusia.

 

Hingga suatu hari, Nabi Sulaiman beserta pasukan berkudanya menuju kepada jalan di lembah tersebut. Seekor semut yang memiliki kemampuan melebihi teman-temannya yang lain, menyadari hal itu.


 

Ia lantas mengingatkan mereka agar segera pulang ke sarang masing-masing untuk menyelamatkan diri. Tafsir Ibnu Katsir menyebut, bahwa semut yang berbicara itu bernama Haras, dari Bani Syisan.

 

Para semut pun mengikuti anjuran tersebut meski sebenarnya mereka sendiri belum melihat langsung pasukan Sang Nabi karena masih berada di kejauhan. Kisah ini diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 18.

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka (pasukan Nabi Sulaiman) sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."

 

Demi mendengar seekor semut yang berbicara kepada teman-temannya untuk saling mengingatkan, Nabi Sulaiman pun tersenyum dan memuji Allah. Lalu ia menghentikan pasukannya agar memberi waktu bagi para semut untuk berlindung.

 

Kisah tersebut bukanlah dongeng anak-anak yang hanya imajinasi, melainkan nyata terjadi. Al-Quran merekam kisah itu untuk kita karena banyak sekali hikmah yang dapat kita petik darinya.

 

Pertama, tentang serangga kecil yang memiliki sifat saling percaya kepada temannya. Mereka tahu bahwa Haras yang memberi peringatan itu memang punya kelebihan pendengaran dibanding yang lain.

 

Tak seekor pun yang berlawanan pendapat dengan dia, karena memang para semut itu menyadari bahwa mereka tidak menguasai ilmunya melebihi Haras.

 

Kedua, tentang sekumpulan hewan yang mengambil langkah antisipasi. Meskipun bahaya masih jauh, mereka sudah sigap bergerak melakukan penyelamatan.

 

Para semut tahu, jika mereka baru bergerak saat pasukan berkuda itu sudah di depan mata, tentu tak bermanfaat lagi. Kaki-kaki kekar dari barisan kuda pastilah akan menginjak-injak mereka karena terlambat untuk bertindak.

 

Ketiga, tentang mahluk Allah yang mengetahui kapasitas dirinya hanya sebagai seekor semut. Ketika pasukan berkuda mendekati, mereka tahu bahwa bersembunyi di sarang adalah ikhtiar terbaik untuk menyelamatkan diri.

 

Tak ada gunanya menantang barisan berkuda jika mereka hanya semut. Karena setiap mahluk Allah diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan para semut itu ridha dengan bagian mereka.

 

Demikianlah keteladanan dari semut-semut pada zaman Nabi Sulaiman. Ribuan tahun berlalu, namun kisah ini tak lapuk oleh waktu. Bahkan semut (An-Naml) dijadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Quran.

 

Salam Hijrah