Friday, June 28, 2019

SANDAL JEPIT

 

Seorang pengusaha kaya sedang terbaring di rumah sakit. Dokter sudah angkat tangan dengan kondisinya. Seluruh keluarga sudah berkumpul mengelilingi. Lalu sang pengusaha berpesan,


"Kalau memang kesehatan Papa tidak tertolong lagi, Papa pesan pada kalian agar mengambil benda yang dibungkus kantong hitam di dalam lemari. Papa ingin dikafankan beserta benda tersebut."


Takdir memutuskan bahwa sang pengusaha wafat pada hari itu. Singkat cerita, jenazahnya kemudian dimandikan dan hendak dikafani. Lalu anak-anaknya pun mengambil kantong hitam sesuai pesan ayahnya. Mereka menyangka di dalamnya berisi kain ihram yang dipakai ayahnya ketika dulu berhaji.



Namun begitu dibuka ternyata berisi sepasang sandal jepit lusuh yang sudah putus sebelah talinya. Mereka bingung, apa boleh jenazah dipakaikan sandal? Lagi pula sandal itu sudah bekas. Bagaimana kalau kotor dan mengandung najis pada alasnya?


Setelah perdebatan antara keluarga dan para tokoh masyarakat tidak menemukan jalan keluar, mereka sepakat menemui seorang Kiai yang selama ini dikenal menjadi guru ngaji ayahnya.


Mendengar perihal yang terjadi, Kiai tersenyum tipis kemudian berkata,


"Sebenarnya beliau hanya ingin memberi nasihat kepada kalian. Bahwa beliau ini semasa hidupnya memiliki harta berlimpah, termasuk koleksi sepatu-sepatu mahalnya. Namun saat kematian datang, tak ada satupun yang bisa dibawa ke kubur. Bahkan hanya sandal jepit yang sudah putus talinya pun tak bisa!"


Demikianlah nasihat yang jujur dari seorang ayah kepada keluarganya agar jangan tertipu dengan gemerlapnya dunia. Sesungguhnya kekayaan itu tak ada yang dibawa mati, kecuali apa yang digunakan di jalan Allah.




إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ


“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula syaitan memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

(Surat Lukman : 33)

 

Jika memang ada sandal yang dibawa mati, bukanlah yang mahal harganya, melainkan yang senantiasa menjadi alas ketika kaki ini melangkah ke masjid.


Kalau memang pakaian ada yang dibawa mati, tentu saja bukan karena butik dan desainernya, melainkan karena dipakai dalam beribadah kepada Allah.


Manfaatkanlah kekayaan yang Allah titipkan kepada kita agar bisa membantu kelak di akhirat. Bukan justru harta benda itu memperdaya kita. Karena sandal jepit lusuh pun tidak ada artinya jika tak dimanfaatkan untuk kebaikan.


Salam Hijrah.

Thursday, June 27, 2019

KISAH IBU TUA DAN IBU MUDA


Sahabat Abu Hurairoh meriwayatkan tentang kisah Ibu Tua dan Ibu Muda yang pernah diceritakan Rasulullah di depan para sahabatnya. Hadist ini terdapat dalam Sahih Bukhari.

Suatu hari datanglah serigala menerkam seorang bayi milik Ibu Tua. Karena tidak terima kehilangan bayinya, Ibu Tua merampas bayi lain milik Ibu Muda, dan mengakui bahwa bayi lain itu adalah anaknya sendiri.

Akibat perbuatan tersebut, Ibu Muda yang berkata jujur justru dituduh berbohong. Kasihan sekali Ibu Muda. Selain kehilangan darah dagingnya sendiri, nama baiknya juga tercemar karena orang-orang mengira ia melakukan klaim terhadap bayi Ibu Tua.

Mereka berdua datang kepada Nabi Daud. Kemudian atas pertimbangan usia, Sang Nabi memutuskan bayi itu diserahkan kepada Ibu Tua. Lantas mereka datang kepada Nabi Sulaiman sebagaimana hadist riwayat Bukhari berikut,

فخرجتا على سليمان بن داود عليهما السلام فأخبرتاه فقال ائتوني بالسكين أشقه بينهما فقالت الصغرى لا تفعل يرحمك الله هو ابنها فقضى به للصغرى

Keduanya pergi kepada Sulaiman menyampaikan kasus itu. Sulaiman berkata, "Ambilkan pisau. Aku akan membelahnya untuk mereka berdua."

Ibu Muda mencegah, "Jangan! Semoga Allah merahmatimu. Bayi ini silahkan dibawa olehnya saja!"

Maka tahulah Sulaiman bahwa Ibu Muda adalah ibu yang sebenarnya atas bayi itu.

Hadist ini berkisah tentang kecerdasan Nabi Sulaiman yang tidak lain putra Nabi Daud. Beliau berhasil membuktikan siapakah yang memiliki naluri keibuan yang sesungguhnya.

Hadist ini juga membuka mata kita betapa beratnya dosa orang yang merampas hak orang lain yang bukan miliknya.

Selain tindakan tersebut adalah pencurian, mudharat yang lebih besar adalah saat menjadi fitnah bagi pemilik sebenarnya karena ia justru yang menjadi tertuduh seolah-olah melakukan klaim, padahal sejatinya ia yang berkata jujur. Na'uzubillah.

Oleh karena itu, jagalah baik-baik diri kita ini agar tidak berbuat zalim dan berperilaku curang. Apa yang kita harapkan dengan mengakui sesuatu yang bukan hak kita, jika harus dibayar dengan fitnah terhadap nama baik saudara kita sendiri.

Sekaligus kita memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari orang-orang yang hendak berbuat zalim dan berperilaku curang. Ucapkan Hasbunallah wa ni'mal wakil sebanyak mungkin pada siang dan malam kita. Karena sebaik-baik perlindungan hanya milik Allah.


Salam Hijrah.

GELAS KOSONG

 

Jika sebuah gelas yang penuh berisi air kita tumpahkan, apakah yang terjadi pada gelas tersebut? Apakah gelas menjadi kosong? Ternyata tidak.


Yang terjadi hanya berganti partikel saja. Awalnya gelas itu berisi partikel air, kini gelas itu berisi partikel udara. Karena udara juga benda, hanya saja berwujud gas dan tidak tampak oleh mata. Boleh jadi ada milyaran partikel udara di gelas itu sekarang.


Lalu bagaimana jika percobaan ini dilakukan pada ruang hampa? Apabila air ditumpahkan dari gelas, apa yang mengisi gelas itu kemudian?


Meski di ruang hampa udara, ternyata gelas itu kini masih berisi udara juga. Karena kenyataannya manusia sampai saat ini belum mampu membuat ruang yang benar-benar hampa.


Prof. Yohanes Surya mengatakan bahwa ruang hampa yang paling hampa yang berhasil dibuat oleh manusia masih mengandung 10 juta partikel udara dalam setiap liternya.



Jadi dalam ruang hampa sekalipun sebuah gelas kosong ternyata tidak kosong, sekurangnya masih berisi 2,5 juta partikel udara!

 

Gelas itu ibarat waktu yang kita miliki. Jika waktu tidak kita isi dengan perbuatan yang bermanfaat, apakah bisa kita sebut sebagai waktu kosong? Ternyata tidak.


Al-Imam As-Syafi'i telah mengungkap fenomena ini dengan perkataan beliau,

 

"Jika engkau tidak menyibukkan diri dengan kebenaran maka engkau sedang disibukkan dengan kebatilan."

 

Secara hakiki tak ada seorang manusia pun yang memiliki waktu kosong. Selama 24 jam sehari waktunya pasti penuh. Sebagiannya penuh dengan kebaikan, dan sebagiannya lagi penuh dengan kebatilan. Kembali pada orangnya masing-masing.


Demikianlah persamaan antara waktu kosong dengan gelas kosong. Jika air pergi, maka udara yang datang!


Jika kita tidak berusaha mengisinya dengan hal bermanfaat, maka secara otomatis ia akan diisi oleh hal yang sia-sia. Bahkan saat seseorang sedang tidak melakukan apapun, sebenarnya ia telah berbuat zalim.


Kezalimannya adalah karena ia sedang membuang-buang waktunya begitu saja. Orang barat berkata,


You can buy clock, but not time.

 

(Anda mungkin dapat membeli sebuah jam, namun Anda tak akan mampu membeli waktu)



Oleh karena itu, mari perbaiki cara pandang kita dalam mengartikan tentang waktu kosong. Sesungguhnya setiap waktu yang kita miliki sedang menunggu kita untuk mengisinya, dan tak ada pilihan sama sekali untuk mengosongkannya.


Salam Hijrah.