Thursday, August 13, 2020

KEJARLAH SURGA HINGGA KE TELAPAK KAKINYA

 

Seorang sahabat meminta kepada saya sebuah tulisan tentang ibu, tepatnya berkaitan dengan hadist Rasulullah yang disebut Al-Imam As-Suyuthi dalam kitab Jami'us Shagir bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

 

الْجَنَّةُ تَحْتَ أقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ

 

Alangkah luas sekali makna yang dapat kita petik saat Rasul mengabarkan seolah-olah surga itu terletak pada telapak kaki ibu. Artinya, bakti seorang anak harus sampai titik paling rendah kepada ibunya agar pantas diganjar surga.


 

Untuk gampang mengingatnya, bagaimana kalau kita andaikan anak itu seperti sepasang sandal bagi ibunya? Bukankah sandal memang berada di bawah telapak kaki?

 

Mari kita lihat bagaimana karakter dari sandal yang wajib kita tiru, untuk mendapatkan surga.

 

Pertama, sandal selalu terletak di bawah kaki. Semahal apapun harga sepasang sandal, tidak akan pernah diletakkan di atas kepala. Demikianlah sikap kita kepada ibu.

 

Meski kita telah sukses dan kaya raya bagaimanapun, tetap saja posisi kita harus merendahkan diri di bawah kakinya. Jangan sombong hanya karena harta berlimpah, lalu merasa lebih tinggi dari ibu.

 

Kedua, sandal tak pernah protes dipakai untuk situasi jalan yang bermacam-macam. Jalan kering nan bersih maupun jalan berlumpur nan kotor. Jalan rata yang nyaman maupun jalan berbatu yang tajam.

 

Artinya, bakti kepada ibu sepantasnya dalam berbagai situasi. Lapang maupun sempit, senang maupun sulit. Berapa banyak orang yang mengabdi kepada ibunya hanya untuk perkara mudah saja, namun saat ibunya meminta pengorbanan yang lebih besar, ia lari tunggang langgang.

 

Ketiga, sandal selalu sabar menunggu. Saat sandal dilepaskan di depan rumah, ia akan tetap berada di situ sampai pemiliknya membutuhkan lagi untuk keluar rumah. Tak ada yang lebih setia daripada sandal!

 

Demikianlah sejatinya sikap yang harus kita tunjukkan kepada ibu. Sabar dan setia. Sebagaimana dahulu ibu teramat sabar mengasuh kita ketika kecil dan begitu setia membesarkan kita.

 

Berharaplah agar ibu diberi umur panjang, karena kita menikmati setiap keringat yang tumpah dalam bakti kepadanya. Bukan berharap agar berbakti kepadanya segera selesai, karena kita sudah tidak tahan lagi dan begitu tersiksa dalam berbuat taat padanya.

 

Akhirnya, setiap kita memang hanya sepasang sandal bagi ibu kita masing-masing. Walaupun tidak mudah, tapi percayalah ibu selalu sayang kepada kita.

 

Coba lihat jika seseorang kehilangan sebelah sandalnya, ia tak akan rela jika digantikan sebelah sandalnya itu meski dengan yang lebih bagus. Ia hanya ingin sepasang sandal yang seperti semula, bukan yang saling berlainan.

 

Demikian pula ibu, meski tampak seolah tidak perhatian, sebenarnya itu hanya perasaan kita saja. Ibu tidak akan rela jika kita digantikan dengan anak yang lain. Ibu selalu sayang kepada kita.

 

Salam Hijrah.

Tuesday, July 7, 2020

CORONAPEDIA

Baiklah, virus corona (Covid-19) memang pandemi yang harus kita waspadai bersama. Kita tetap wajib antisipasi dan memutus mata rantai penyebarannya. Bersamaan dengan itu, mari kita luangkan waktu sebentar saja untuk muhasabah.

 

Corona adalah mahluk mikroskopis yang kecil sekali sampai tak kasat mata. Ukurannya hanya 120 nanometer. Namun kita menyaksikan sendiri, suatu partikel yang amat kecil ternyata mampu membuat situasi besar.

 

Mari mengambil pelajaran dari hal ini, bahwa mudah bagi Allah memperlihatkan sesuatu yang besar hanya dari sebab-sebab kecil. Dari sini bisa menguatkan keimanan kita tentang balasan atas amal perbuatan, meski amalan itu teramat kecil laksana zarrah (partikel debu) kita tak bisa menghindar dari perhitungannya.

 

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه.

 

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."

 

(Surat Al-Zalzalah: 7-8)

 

Berbulan-bulan silam, ketika corona mewabah di negeri Tiongkok, kita semua menyaksikan dari jauh bagaimana keadaan genting di sana. Namun, hal tersebut kita tahu hanya sebatas berita saja karena kenyataannya kita hidup di sini dalam keadaan aman dan sehat.

 

Lantas lihatlah hari ini. Keadaan genting yang dulu hanya berita kini menjadi nyata kita rasakan, dan situasi aman dan sehat sekarang justru laksana berita bagi kita.

 

Jangan sampai kita tidak mengambil pelajaran, karena demikianlah kemiripan yang terjadi antara alam akhirat dengan alam dunia.

 

Saat hidup, alam akhirat tersebut hanya sebatas berita saja karena kenyataannya kita masih ada di alam dunia hari ini.

 

Namun setelah kematian, alam akhirat yang dulu hanya berita, saat itu menjadi nyata kita rasakan. Adapun alam dunia justru akan menjadi laksana berita bagi kita.

 

Semenjak mengetahui sifat penularan corona, kita mulai rajin mencuci tangan, memakai masker, serta menahan kaki ini tidak sering keluar rumah.

 

Kesimpulannya, virus insya Allah menjauh bagi orang-orang yang selamat menjaga anggota tubuhnya meliputi tangan, kaki, dan mulut.

 

Bukankah dosa juga demikian? Pintu perbuatan maksiat banyak masuk kepada kita melalui anggota tubuh tersebut. Maka hendaklah kita selalu berhati-hati menjaga lisan, tangan, dan kaki agar selamat kelak di akhirat.

 

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

"Pada hari (ketika), lisan, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."

 

(Surat An-Nur: 24)