Monday, July 6, 2020

CARA MEMBENTUK SEMANGKA

 

Bang Mada dan Midun terkejut melihat Engkong Haji membawa sebuah semangka yang berbentuk kotak. Bukankah semangka itu biasa mereka lihat dalam bentuk bulat?

 

"Ente berdua kaga usah heran, semangka ini gak begitu saja terbentuk jadi kotak seperti ini. Ada caranya!" Engkong Haji menangkap rasa penasaran kedua lelaki di hadapannya itu.


 

"Emang gimana cara bikin semangka bisa kotak gini?"

 

"Ini gak mudah cara buatnya, harus sabar! Jadi sejak semangka ini masih kecil, petaninya menutup rapat pakai akrilik berbentuk kubus. Untuk cetakannya gitu."

 

Engkong Haji memperagakan dengan kedua tangannya, sementara Mada dan Midun masih memperhatikan dengan antusias.

 

"Nah karena sejak kecil sudah dicetak, nanti semakin lama semakin besar semangka itu akan tumbuh mengikuti bentuk kubus tersebut. Makanya jadi kotak kaya gini! Kalau udah terbentuk, meskipun cetakannya dilepas gak akan mudah kembali lagi jadi bulat!"

 

Kini mengertilah mereka berdua, bahwa membuat semangka jadi seperti itu prosesnya memang sejak kecil. Sejurus kemudian Engkong Haji menambahkan ceritanya,

 

"Semangka ini juga sama seperti anak-anak kita. Kalau dari kecil dibentuk orang tuanya dengan akhlak yang saleh, maka semakin lama semakin besar anak itu akan tumbuh mengikuti akhlak tersebut."

 

Midun pun menimpali, "dan kalau udah terbentuk akhlak yang baik, meskipun sudah dilepas orang tuanya gak akan mudah untuk berubah! Begitu kan Engkong?"

 

"Pinter ente, Midun!" Kebetulan Engkong Haji hafal beberapa syair dalam bahasa Arab, beliau lalu membacakan di hadapan Bang Mada dan Midun.

 

يَنْشَأُ نَاشِيْءُ الفِتْيَانِ مِنَّا عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ

 

"Artinya apaan Engkong?"

 

“Tumbuh berkembang anak-anak kami, di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya.”


"Cakeeep." Mada dan Midun menjawab kompak.

 

Sunday, July 5, 2020

KITA PERLU BELAJAR DARI SEMUT


Alkisah tersebutlah satu kaum semut yang hidup di sebuah lembah di negeri Syam. Kediaman mereka sebenarnya berada di dalam sarang-sarang, namun para semut tersebut pada siang hari beraktivitas di sekitar lembah yang juga merupakan jalan yang biasa dilalui oleh manusia.

 

Hingga suatu hari, Nabi Sulaiman beserta pasukan berkudanya menuju kepada jalan di lembah tersebut. Seekor semut yang memiliki kemampuan melebihi teman-temannya yang lain, menyadari hal itu.


 

Ia lantas mengingatkan mereka agar segera pulang ke sarang masing-masing untuk menyelamatkan diri. Tafsir Ibnu Katsir menyebut, bahwa semut yang berbicara itu bernama Haras, dari Bani Syisan.

 

Para semut pun mengikuti anjuran tersebut meski sebenarnya mereka sendiri belum melihat langsung pasukan Sang Nabi karena masih berada di kejauhan. Kisah ini diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 18.

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka (pasukan Nabi Sulaiman) sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."

 

Demi mendengar seekor semut yang berbicara kepada teman-temannya untuk saling mengingatkan, Nabi Sulaiman pun tersenyum dan memuji Allah. Lalu ia menghentikan pasukannya agar memberi waktu bagi para semut untuk berlindung.

 

Kisah tersebut bukanlah dongeng anak-anak yang hanya imajinasi, melainkan nyata terjadi. Al-Quran merekam kisah itu untuk kita karena banyak sekali hikmah yang dapat kita petik darinya.

 

Pertama, tentang serangga kecil yang memiliki sifat saling percaya kepada temannya. Mereka tahu bahwa Haras yang memberi peringatan itu memang punya kelebihan pendengaran dibanding yang lain.

 

Tak seekor pun yang berlawanan pendapat dengan dia, karena memang para semut itu menyadari bahwa mereka tidak menguasai ilmunya melebihi Haras.

 

Kedua, tentang sekumpulan hewan yang mengambil langkah antisipasi. Meskipun bahaya masih jauh, mereka sudah sigap bergerak melakukan penyelamatan.

 

Para semut tahu, jika mereka baru bergerak saat pasukan berkuda itu sudah di depan mata, tentu tak bermanfaat lagi. Kaki-kaki kekar dari barisan kuda pastilah akan menginjak-injak mereka karena terlambat untuk bertindak.

 

Ketiga, tentang mahluk Allah yang mengetahui kapasitas dirinya hanya sebagai seekor semut. Ketika pasukan berkuda mendekati, mereka tahu bahwa bersembunyi di sarang adalah ikhtiar terbaik untuk menyelamatkan diri.

 

Tak ada gunanya menantang barisan berkuda jika mereka hanya semut. Karena setiap mahluk Allah diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan para semut itu ridha dengan bagian mereka.

 

Demikianlah keteladanan dari semut-semut pada zaman Nabi Sulaiman. Ribuan tahun berlalu, namun kisah ini tak lapuk oleh waktu. Bahkan semut (An-Naml) dijadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Quran.

 

Salam Hijrah